Tampilkan postingan dengan label Dunia Antariksa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Antariksa. Tampilkan semua postingan

Ditemukan Planet Serupa Bumi Yang Memiliki Atmosfir Oleh NASA

Ditemukan Planet Serupa Bumi Yang Memiliki Atmosfir Oleh NASA. Sekelompok astronom, termasuk dua asal NASA berhasil mengenali atmosfir sebuah planet super-Bumi bernama GJ 1214b menggunakan teleskop Very Large Telescope yang ada di Paranal Observatory in Chile.

Temuan yang dilaporkan di jurnal Nature tersebut merupakan tonggak sejarah penting menuju kemampuan mendeteksi atmosfir planet serupa Bumi, untuk mencari tanda-tanda kehidupan.



Diperkirakan, planet ini diselimuti lapisan tipis air atau lapisan awan tebal yang berada jauh di atas permukaannya. Jika ia memiliki lapisan tipis air, GJ 1214b diperkirakan mengandung es. Jika awan tebal, kemungkinan planet itu berbatu-batu, serupa Neptunus, meski planet itu berukuran lebih kecil.

“Ini merupakan planet super-Bumi pertama yang terdeteksi memiliki atmosfir,” kata Jacob Bean, astronom NASA dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, seperti dikutip dari Nasa, 2 Desember 2010. “Namun, meski telah menggunakan pengukuran baru, kami tetap belum dapat memastikan dari apa atmosfir planet itu terbuat,” ucapnya.

GJ 1214b, pertamakali ditemukan pada Desember 2009, berukuran 2,7 kali lebih besar dari Bumi dan 6,5 kali lebih berat. Ia mengorbit dekat dengan bintangnya yang redup, dengan jarak 0,014 astronomical units atau sekitar 695 ribu kilometer.

Astronomical unit merupakan jarak antara Bumi dan Matahari, yakni sekitar 149 juta kilometer. Mengingat dekatnya jarak antara GJ1214b ke bintang yang ia kelilingi, kemungkinan tidak ada kehidupan di planet tersebut. “Tahun depan, kami baru akan memiliki jawaban pasti seputar apa dan bagaimana sebenarnya planet ini,” kata Bean.

http://www.forumkami.com/forum/cafe/94428-ditemukan-planet-mirip-bumi-gj-1214b.html

Bersyukur kita disinari Matahari bukan oleh VV Cephei

Bersyukur kita disinari Matahari bukan oleh VV Cephei

http://abiwin.files.wordpress.com/2009/03/matahari_small.jpg
Siang hari jam 12.00 tepat kalau kita ada urusan di luar ruangan rasanya kita enggan, karena panas matahari sedang puncak-puncaknya. Kita melihat matahari di tata surya kita sebagai bintang yang memancarkan panas yang sangat besar bila dibandingkan dengan ukuran bumi kita. Sebenarnya seberapa besarkah ukuran matahari dan bintang-bintang di angkasa. Baiklah kita sekarang coba melihat satu persatu ukuran (diameter) dari planet ataupun bintang-bintang.

Bumi : 12.756 km
Neptunus : 49.528 km
Uranus : 51.118 km
Jupiter : 142.954 km
Saturnus : 120.536 km

Hmmmm ukuran Jupiter kurang lebih 12 kali bumi …

Matahari : 1.392.000 km, wow ….. bintang di galaksi bima sakti 342 kali diameter bumi … Subhanallah ….

Ups … silakan lihat

Allah menciptakan alam semesta dengan keagungannya. Beberapa bintang lain …
Sirius : 2.335.000 km ———- matahari lebih kecil :-)
Vega : 4.315.000 km ———- 3 kali lebih besar dari Matahari
Pollux : 11.120.000 km ——– lebih besuaaar lagi ….
Arcturus : 22.101.000 km
Aldebaran : 59.770.000 km
Rigel : 97.300.000 km
Deneb : 201.550.000 km
Pistol Star : 450.520.000 km
Betelgeuse : 903.500.000 km
Antares : 1.330.000.000 km
VV Cephei : 2.664.800.000 km —- lebih besar 1.900 kali matahari dan lebih besar 649.800 kali bumi
Kita makhluk di bumi patut bersyukur bahwa Matahari tidak diganti VV Cephei ….

Subhanallah ….. apalah kita manusia dihadapkan dengan penciptanya

sumber:
http://aghus.wordpress.com/



Planet X Pada Kiamat 2012 Bukan Planet Nibiru


Planet X Pada Kiamat 2012 Bukan Planet Nibiru

Bagian luar Tata Surya masih memiliki banyak planet-planet minor yang belum ditemukan. Sejak pencarian Planet X dimulai pada awal abad ke 20, kemungkinan akan adanya planet hipotetis yang mengorbit Matahari di balik Sabuk Kuiper telah membakar teori-teori Kiamat dan spekulasi bahwa Planet X sebenarnya merupakan saudara Matahari kita yang telah lama “hilang”. Tetapi, mengapa kita harus cemas duluan akan Planet X/Teori Kiamat ini? Planet X kan tidak lain hanya merupakan obyek hipotetis yang tidak diketahui?

Teori-teori ini didorong pula dengan adanya ramalan suku Maya akan kiamat dunia pada tahun 2012 (Mayan Prophecy) dan cerita mistis Bangsa Sumeria tentang Planet Nibiru, dan akhirnya kini memanas sebagai “ramalan kiamat” 21 Desember 2012. Namun, bukti-bukti astronomis yang digunakan untuk teori-teori ini benar-benar melenceng.

Pada 18 Juni kemarin, peneliti-peneliti Jepang mengumumkan berita bahwa pencarian teoretis mereka untuk sebuah massa besar di luar Tata Surya kita telah membuahkan hasil. Dari perhitungan mereka, mungkin saja terdapat sebuah planet yang sedikit lebih besar daripada sebuah objek Plutoid atau planet kerdil, tetapi tentu lebih kecil dari Bumi, yang mengorbit Matahari dengan jarak lebih dari 100 SA. Tetapi, sebelum kita terhanyut pada penemuan ini, planet ini bukan Nibiru, dan bukan pula bukti akan berakhirnya dunia ini pada 2012. Penemuan ini adalah penemuan baru dan merupakan perkembangan yang sangat menarik dalam pencarian planet-planet minor di balik Sabuk Kuiper.

Dalam simulasi teoretis, dua orang peneliti Jepang telah menyimpulkan bahwa bagian paling luar dari Tata Surya kita mungkin mengandung planet yang belum ditemukan. Patryk Lykawa dan Tadashi Mukai dari Universitas Kobe telah mempublikasikan paper mereka dalam Astrophysical Journal. Paper mereka menjelaskan tentang planet minor yang mereka yakini berinteraksi dengan Sabuk Kuiper yang misterius itu.

Kuiper Belt Objects (KBOs)

Sedna, salah satu objek di Sabuk Kuipert. Kredit : NASA
Sedna, salah satu objek di Sabuk Kuipert. Kredit : NASA
Sabuk Kuiper menempati wilayah yang sangat luas di Tata Surya kita, kira-kira 30-50 SA dari Matahari, dan mengandung sejumlah besar objek-objek batuan dan metalik. Objek terbesar yang diketahui adalah planet kerdil (Plutoid) Eris. Telah lama diketahui, Sabuk Kuiper memiliki karakteristik yang aneh, yang mungkin menandakan keberadaan sebuah benda (planet) besar yang mengorbit Matahari dibalik Sabuk Kuiper. Salah satu karakterikstik tersebut adalah yang disebut dengan “Kuiper Cliff” atau Jurang Kuiper yang terdapat pada jarak 50 SA. Ini merupakan akhir dari Sabuk Kuiper yang tiba-tiba, dan sangat sedikit objek Sabuk Kuiper yang telah dapat diamati di balik titik ini. Jurang ini tidak dapat dihubungkan terhadap resonansi orbital dengan planet-planet masif seperti Neptunus, dan tampaknya tidak terjadi kesalahan (error) pengamatan. Banyak ahli astronomi percaya bahwa akhir yang tiba-tiba dalam populasi Sabuk Kuiper tersebut dapat disebabkan oleh planet yang belum ditemukan, yang mungkin sebesar Bumi. Objek inilah yang diyakini Lykawka dan Mukai, dan telah mereka perhitungkan keberadaannya.

Para peneliti Jepang ini memprediksikan sebuah objek besar, yang massanya 30-70 % massa Bumi, mengorbit Matahari pada jarak 100-200 SA. Objek ini mungkin juga dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian objek Sabuk Kuiper dan objek Trans-Neptunian (TNO) memiliki beberapa karakteristik orbital yang aneh, contohnya Sedna.

Objek-objek trans Neptunian. Kredit : NASA
Objek-objek trans Neptunian. Kredit : NASA
Sejak ditemukannya Pluto pada tahun 1930, para astronom telah mencari objek lain yang lebih masif, yang dapat menjelaskan gangguan orbital yang diamati pada orbit Neptunus dan Uranus. Pencarian ini dikenal sebagai “Pencarian Planet X”, yang diartikan secara harfiah sebagai “pencarian planet yang belum teridentifikasi”. Pada tahun 1980an gangguan orbital ini dianggap sebagai kesalahan (error) pengamatan. Oleh karena itu, pencarian ilmiah akan Planet X dewasa ini adalah pencarian untuk objek Sabuk Kuiper yang besar, atau pencarian planet minor. Meskipun Planet X mungkin tidak akan sebesar massa Bumi, para peneliti masih akan tetap tertarik untuk mencari objek-objek Kuiper lain, yang mungkin seukuran Plutoid, mungkin juga sedikit lebih besar, tetapi tidak terlalu besar.

“The interesting thing for me is the suggestion of the kinds of very interesting objects that may yet await discovery in the outer solar system. We are still scratching the edges of that region of the solar system, and I expect many surprises await us with the future deeper surveys.” - Mark Sykes, Direktur Planetary Science Institute (PSI) di Arizona.

Planet X Tidaklah Menakutkan
Jadi, dari mana Nibiru ini berasal? Pada tahun 1976, sebuah buku kontroversial berjudul The Twelfth Planet atau Planet Kedua belas ditulis oleh Zecharian Sitchin. Sitchin telah menerjemahkan tulisan-tulisan kuno Sumeria yang berbentuk baji (bentuk tulisan yang diketahui paling kuno). Tulisan berumur 6.000 tahun ini mengungkapkan bahwa ras alien yang dikenal sebagai Anunnaki dari planet yang disebut Nibiru, mendarat di Bumi. Ringkas cerita, Anunnaki memodifikasi gen primata di Bumi untuk menciptakan homo sapiens sebagai budak mereka.

Ketika Anunnaki meninggalkan Bumi, mereka membiarkan kita memerintah Bumi ini hingga saatnya mereka kembali nanti. Semua ini mungkin tampak sedikit fantastis, dan mungkin juga sedikit terlalu detail jika mengingat semua ini merupakan terjemahan harfiah dari suatu tulisan kuno berusia 6.000 tahun. Pekerjaan Sitchin ini telah diabaikan oleh komunitas ilmiah sebagaimana metode interpretasinya dianggap imajinatif. Meskipun demikian, banyak juga yang mendengar Sitchin, dan meyakini bahwa Nibiru (dengan orbitnya yang sangat eksentrik dalam mengelilingi Matahari) akan kembali, mungkin pada tahun 2012 untuk menyebabkan semua kehancuran dan terror-teror di Bumi ini. Dari “penemuan” astronomis yang meragukan inilah hipotesis Kiamat 2012 Planet X didasarkan. Lalu, bagaimanakah Planet X dianggap sebagai perwujudan dari Nibiru?

Kemudian terdapat juga “penemuan katai coklat di luar Tata Surya kita” dari IRAS pada tahun 1984 dan “pengumuman NASA akan planet bermassa 4-8 massa Bumi yang sedang menuju Bumi” pada tahun 1933. Para pendukung hipotesis kiamat ini bergantung pada penemuan astronomis tersebut, sebagai bukti bahwa Nibiru sebenarnya adalah Planet X yang telah lama dicari para astronom selama abad ini. Tidak hanya itu, dengan memanipulasi fakta-fakta tentang penelitian-penelitian ilmiah, mereka “membuktikan” bahwa Nibiru sedang menuju kita (Bumi), dan pada tahun 2012, benda masif ini akan memasuki bagian dalam Tata Surya kita, menyebabkan gangguan gravitasi.

Dalam pendefinisian yang paling murni, Planet X adalah planet yang belum diketahui, yang mungkin secara teoretis mengorbit Matahari jauh di balik Sabuk Kuiper. Jika penemuan beberapa hari lalu memang akhirnya mengarah pada pengamatan sebuah planet atau Plutoid, maka hal ini akan menjadi penemuan luar biasa yang membantu kita memahami evolusi dan karakteristik misterius bagian luar Tata Surya kita.



Global Warming Hoax dan Kiamat 2012 ???

Sebelum kita selami tulisan ini, mari baca beberapa fakta berikut:


1. Kita (manusia) bukanlah penyebab terjadinya Pemanasan Global. Dalam kadar maksimal, hanya 3 % gas karbondioksida (CO2) yang dihasilkan umat manusia. Jumlah CO2 dalam udara saat ini menyerap hampir semua radiasi yang ada. Jadi, tak ada hubungan antara kaitan jumlah kadar CO2 dan radiasi.


2. 17.000 orang ilmuwan telah menandatangani sebuah petisi yang menyatakan bahwa CO2 yang dihasilkan manusia bukan penyebab pemanasan global. Peningkatan kadar CO2 sebanyak 30 % persen di atmosfir kita dalam 100 tahun terakhir adalah akibat kenaikan suhu laut. Dan naiknya temperature laut disebabkan meningkatnya aktivitas vulkanik dan tektonik.


3. Film “An Inconvenient Truth”-nya Al Gore yang mengulas soal hubungan antara kadar CO2 dengan pemanasan global adalah film yang menyesatkan. Satu-satunya informasi yang benar dalam film tersebut hanya bahwa peningkatan temperatur air laut akan memicu kemunculan Zaman Es dalam waktu sekejap.


4. Peningkatan aktivitas vulkanik dan tektonik telah memicu banyak terjadinya bencana alam di dunia. Tercatat bahwa sejak medio 1970-an, jumlah bencana alam yang terjadi di planet ini meningkat sebesar 410 %.


5. Pemanasan global di bumi dapat dijustifikasi dengan menyalahkan manusia sebagai penyebab peningkatan emisi CO2, tapi bagaimana dengan pemenasan di matahari? Perlu diketahui pula bahwa suhu matahari pun ternyata telah meningkat dalam kurun 50 tahun terakhir. Jelas bahwa pemanasan suhu matahari tak ada kaitannya dengan emisi CO2 di bumi.


Dari fakta-fakta tersebut, jelaslah bahwa kita bisa menarik beberapa kesimpulan:


1. Pemanasan global tidak terkait dengan ulah manusia merusak alam, namun terkait dengan peningkatan suhu air laut.


2. Suhu air laut meningkat akibat peningkatan aktivitas tektonik dan vulkanik.


3. Peningkatan aktivitas tektonik dan vulkanik juga memicu banyak terjadinya bencana alam semacam letusan gunung berapi dan gempa juga gelombang tsunami.


4. Dengan demikian, berdasarkan simpulan 1-3 di atas, maka dapat diringkas bahwa semua fenomena ini berhubungan dengan peningkatan aktivitas tektonik dan vulkanik.


Nah dari berbagai simpulan tersebut, hasilnya ialah sebuah pertanyaan:


Apa yang menyebabkan peningkatan aktivitas tektonik dan vulkanik?


99% dari semesta kita ini dibangun dari konsentrasi plasma yang tersusun hingga ke level atom. Sebuah planet, seperti Bumi, merupakan konsentrasi plasma yang memiliki kepadatan tertentu. Demikian pula benda langit lainnya, semua merupakan konsentrasi plasma dalam tingkat kepadatan tertentu. Ketika suhu di planet ini, dan juga matahari, berubah secara drastis, ini berarti bahwa ada perubahan konsentrasi elektris pada energi plasma di tata surya kita.


Perlu diketahui, perubahan ini tidak hanya terjadi di bumi saja, tapi juga pada semua planet. Setiap planet di tata surya kita mengalami peningkatan aktivitas dan perubahan cuaca. Banyak fakta yang tidak diterbitkan oleh media. Dr.Dmitriev menyatakan bahwa planet-planet lain juga mengalami perubahan. Misalnya, atmosfir di Mars kini semakin tebal, begitu juga di Bulan. Kini ada lapisan Natrium setebal 6000 kilometer yang sebelumnya tak pernah ada.


Satu-satunya penjelasan ilmiah yang masuk akan ialah bahwa konstelasi dan konsentrasi plasma ini bisa terganggu karena adanya sebuah benda dengan kepadatan plasma besar yang berada di dekat tata surya kita. Nah, benda apakah itu?


Pada tahun 1970-an, seorang arkeolog bernama Zecharia Sitchin menerbitkan sebuah buku terjemahan dari sebuah manuskrip Sumeria kuno. Buku itumengulas masalah konstelasi planet-planet dalam tata surya. Syahdan, di tata surya ini sebenarnya ada 12 buah planet (bukan 8 planet seperti yang kita kenal selama ini) namun mengapa kita hanya bisa mengamati 8 planet? Ini tak lain karena ada planet-planet dalak tata surya yang jalur lintasannya sangat panjang dalam bentuk eliptik-vertikal. Manuskrip Sumeria tersebut kemudian menyebut sebuah planet bernama Nibiru. Dalam perhitungan bangsa Sumeria kuno, kala revolusi Nibiru berada pada kisaran 3600 tahun bumi. Berarti, setiap satu kali dalam 3600 tahun, Nibiru bergerak mendekati objek lintasan eliptik bumi.


Manuskrip yang diterjemahkan Sitchin menyebut bahwa kedatangan planet tersebut selalu menjadi awal dari kehancuran bumi. Dalam bahasa ilmiah, bisa disimpulkan bahwa karena konsentrasi kepadatan plasmanya itu, Nibiru memengaruhi aktivitas vulkanik dan tektonik bumi seperti yang sedang kita rasakan saat ini. Semua fenomena macam ini pernah terjadi di masa lalu sebagai akibat dari masuknya Nibiru ke dalam jalur lintasan revolusi bumi. Dan segala fenomena ini selalu berujun pada masuknya bumi kepada zaman es.


Selama ini, berdasarkan pelajaran-pelajaran di sekolah, kita selalu meyakini bahwa zaman es di bumi ini hanya terjadi satu kali. Yakni pada masa pasca punahnya dinosaurus. Pada kenyataannya, zaman es ini pernah terjadi berkali-kali di bumi. Dan setiap zaman es, selalu didahului oleh feomena macam ini.


Pada pengkajian-pengkajian awal tentang kosmologi-astronomi, diketahui bahwa Bumi pada awalnya menempati posisi lebih dekat dengan matahari. Hari-hari di bumi lebih singkat, lebih panas, dan karenanya seluruh manusia yang hidup di bumi pun berkulit gelap akibat kadar melanin yang tinggi. Karena itu, ada hipotesis bahwa manusia pertama, alias Adam, ialah seorang berkulit hitam, seperti bangsa-bangsa negroid di zaman sekarang.


Ketika itu, planet yang lebih kondusif dari sisi iklim, atmosfir, dan jarak dengan matahari adalah Mars. Namun kemudian Jupiter berubah haluan dari luar tata surya dan masuk ke lintasan orbit matahari. Akibatnya, jarak bumi menjauh dari matahari. Peristiwa ini yang kemudian ditengarai memengaruhi banyak hal, seperti warna kulit manusia ras tertentu, lama hari, serta pergeseran kutub bumi yang menyebabkan es mencair. Diperkirakan bahwa fenomena itulah yang menyebabkan “The Great Deluge” atau Banjir besar dalam kisah Nabi Nuh as.


Pada tahun 2001, beberapa astronom amatir dan obsevatorium non-pemerintah sempat berhasil melihat sebuah benda langit semacam planet yang pergerakannya mendekati orbit bumi. Para astronom amatir tersebut kemudian menamakannya ‘Planet X’


Namun lembaga-lembaga astronomi terkemuka semacam NASA kemudian membantah hal tersebut dan menyatakannya sebagai Hoax atau bualan semata. Akan tetapi sejak saat itu, banyak observatorium yang tiba-tiba saja tertutup untuk umum. Ada pula yang tetap buka, namun para petugasnya tak mau mengarahkan teleskop ke konstelasi bintang Orion. Berbagai alasan dibuat, supaya orang tak mempercayai fakta mencengangkan ini. Fakta tentang Planet X. Adler Planetarium & Astronomy Museum in Chicago maupun Hayden Planetarium di Rose Center for Earth and Space, New York seringkali tertutup untuk umum, dengan berbagai alasan. Demikian pula beberapa obsevatorium terkemuka di banyak negara lainnya. Lalu tiba-tiba, ada banyak pegawai NASA yang diam-diam membuat “home dome” atau rumah dengan konstruksi khusus, yang tahan topan badai, tahan gempa dan angin tornado. Ada apa ini sebenarnya?


Banyak yang meyakini bahwa Planet X dan Nibiru merujuk kepada benda langit yang sama, yang sekarang ini sedang bergerak mendekati lintasan orbit bumi. Menurut Sitchin, berdasarkan perhitungan dari manuskrip Sumeria kuno yang diterjemahkannya, Planet Nibiru ini akan berada dalam posisi yang sangat dekat sekali dengan bumi pada 21 Desember 2012.


Kita perlu memahami sejak saat ini bahwa Nibiru atau Planet X ini memang niscaya ada. Ya, benda ini benar-benar ada dan memang sedang bergerak mendekati bumi berdasarkan aneka fenomena alam yang terasa makin aneh ini. Pertanyaan saya sekarang ialah:


1. Karena Nibiru atau Planet X ini sedang bergerak mendekati bumi, akankah Nibiru atau Planet X ini bertabrakan dengan bumi?

2. Benarkah perhitungan Sitchin bahwa peristiwa tersebut akan terjadi pada 21 Desember 2012.

3. Bilamana Nibiru atau Planet X hanya lewat di sekitar orbit bumi, tidak bertabrakan, dampak apakah yang akan terjadi kepada bumi dan segala isinya? Akankah kita kembali ke zaman es?

4. (Poin ini yang paling membuat saya sedih) bilamana kita kembali ke zaman es, para ilmuwan Rusia yang dipimpin Dr. Andrei Shukshin memperkirakan bahwa 2/3 penduduk bumi akan punah –meninggal secara massal. Akan seperti apakah kehidupan manusia nantinya?



Ketika saya sedang merenungkan berbagai penrnyataan tersebut, saya lalu teringat kepada hadits nabi tentang Al Saah alias kiamat. Rasulullah Saw menyebut-nyebut bahwa perang besar antara umat Islam dengan Yahudi akan terjadi sebelum kiamat. Beberapa hadits Rasulullah Saw menyebut bahwa perang itu akan terjadi dengan menggunakan pedang, panah, dan berkuda –layaknya perang zaman dulu. Jadi mungkin setelah zaman es akibat lintasan orbit Planet X itu, kita akan kembali ke zaman perundagian, zaman batu, dan zaman logam, sehingga nubuat Rasulullah Saw tentang peperangan besar Islam Vs. Yahudi itu terpenuhi. Wallaahu‘alam.


Sumber : http://aneh22.blogspot.com/2009/01/global-warming-hoax-dan-kiamat-2012.html

Misteri di Dalam Perut Bumi ?


Konspirasi tentang apa sebenarnya yang ada di dalam perut bumi sampai sekarang masih menjadi misteri, salah satu teori yang paling berani adalah teori yang menyatakan bahwa perut bumi itu berongga ( hollow ) bahkan ada kehidupan ( extraterestial ) di dalamnya. Dari dulu gw menganggap kalau perut bumi itu isinya hanya magma aja, dan lahar yang keluar ketika gunung merapi meletus itu asalnya dari perut bumi.

Banyak legenda/mitos lain yang mengisahkan tentang perut bumi yang berlubang tapi berkehidupan, serta beberapa pengalaman orang-orang yang melihat sendiri. Di sini kita akan membuktikan bahwa Bumi itu berlubang.

Secara pikiran memang mustahil dan tak masuk di akal, dan ini dapat membuat kita langsung tak percaya. Suhu di kutub Utara dapat dikira-kira akal lebih rendah dari nol derajat celcius (bahkan jauh dibawahnya).

Orang mengira kutub utara itu ada. Tapi jawaban yang tepat ialah TIDAK ADA. Di belahan utara Bumi tidak ada kutub, yang ada adalah daratan yang sangat luas dimana air laut terus menerus tiada hentinya masuk bagian planet ini. Dan suhu air laut itu sendiri mempunyai suhu cukup hangat (seharusnya dingin). Memang seperti yang dikatakan tadi, tidak masuk akal. Tapi marilah kita ikuti perjalanan seorang penjelajah terkenal bernama Dr. Fridtjof Nansen dari Norwegia. Ia mencoba untuk mencapai kutub utara pada tahun 1895. Ketika ia berada di daerah sana, ia kehilangan arah tujuannya, sehingga tak tahu dimana dia saat itu. Pada tanggal 29 Maret hingga musim bunga tahun 1896 Nansen sama sekali hilang!

Nansen merasa heran mendapatkan dirinya berada di daerah hangat, dan merasakan angin yang bertiup dari utara semakin panas, malah matahari sekali-kali terasa sangat panas dan dapat disimpulkan Kutub Utara mempunyai suhu dan iklim yang hangat. Ia mengukur kedalaman air itu, yang ternyata sangat dalam dan airnya juga hangat. Ia tak tahu dari mana asalnya air itu. Ia juga berjumpa/menemui tapak kaki rubah (binatang yang tak tinggal di kutub) yang masih baru. Serta juga mengalami peristiwa ganjil lainnya. Di kutub utara tak ada gunung berapi yang mengeluarkan debu. Debu-debu itu membuat salju berwarna hitam. Apakah debu itu merupakan debu dari dunia dibawah kutub itu? Mungkin saja!

Pengalaman yang sama dan persis dirasakan juga oleh Kapten C.F. Hall. Ia merasakan juga hangatnya air dan udara kutub, serta melihat rubah, unggas, binatang buruan, anjing laut juga jenis-jenis unggas yang mustahil hidup didaerah kutub (artik).

Yang paling aneh dari semuanya itu ialah : kesaksian yang banyak tentang terlihatnya UFO alias piring terbang di kutub selatan. Diperkirakan oleh ahli UFO, piring terbang membentuk pangkalan di kutub selatan, entah benar atau tidak.

Berpuluh-puluh kejadian munculnya UFO telah membuat para ahli sibuk dengan penyelidikannya. Dan para ahli berkeyakinan bahwa UFO merupakan (mungkin tidak semua) sumber segala misteri dunia, setidak-tidaknya erat hubungannya.

Memanglah, Dunia di perut bumi sangat mustahil. Seperti dalam cerita fiksi karangan Jules Verne saja. Lalu, apa kira-kira bentuknya langit di sana? Apakah juga ada mataharinya (memang kelihatan lucu)?

Teori Dunia didalam dunia, bertentangan dengan teori Bumi sendiri. Bumi mempunyai isi yang berupa cairan yaitu magma yang terletak jauh didalam. Dan dapat dikatakan isi Bumi ini pepat tidak pejal. Apakah ada lorong yang menghubungkan kutub selatan dan kutub utara?

Mengapa air di kutub utara hangat, juga udaranya mengapa agak panas? Rahasia ini memang belum tertangkap. Negara Amerika dan Rusia berlomba -lomba ingin mengetahui sebabnya. Bahkan negara Amerika telah memerintahkan untuk diadakannya penyelidikan ke perut bumi. Di daerah puncak bumi (utara) terdapat semacam lubang yang menyerupai kawah bulan yang dalam. Keadaan ini dilihat (dipotret melalui kamera satelit ATS-111 pada ketinggian 23.000 mil dari permukaan bumi. ‘Kawah’ itu seakan-akan merupakan daratan yang tersedot ke dalam, dan merupakan pintu gerbang Dunia bawah tanah.

Semakin banyak aja misteri yang masih belum terungkapkan, bener atau tidaknya konspirasi ini, Wallahualam.

NASA Mengetahui Adanya Pengunjung Dari Luar Bumi


CEO Kontraktor Lockheed Mengetahui Adanya Pengunjung Dari Luar Bumi

Mantan CEO Lockheed “Skunk Works” mengetahui pesawat Roswell mempengaruhi rancangan model kit Testor (perusahaan rekanan militer AS) untuk model Roswell serta pesawat rahasia AS.

Menurut laporan CNI News oleh warga Colorado Michael Lindemann, informasi rancangan diperoleh dari ilustrasi forensik dan sejumlah kesaksian para saksi mata tentang insiden Roswell, yang diberikan oleh William L. “Bill” McDonald.

Dalam sebuah email tertanggal 29 Juli 1999, secara jelas ditujukan kepada Lindemann, McDonald mengacukan pada kutipan sebuah diskusi dengan Harold Puthoff, pendiri program “remote viewing” AS sebelumnya yang sangat rahasia. McDonald mengatakan:

“Baiklah Hal, Anda yang memintanya! John Andrews, insinyur legendaris Lockheed dan kepala perancang model kit untuk Testor Corporation, kini telah meninggal dunia, saya dapat memberitahukan bahwa ia secara personal mengkonfirmasikan hubungan rancangan tersebut antara pesawat (yang jatuh) di Roswell dengan Unmanned Combat Air Vehicles (UCAV, Pesawat Tempur Udara Tidak Berawak) dari Lockheed Martin, pesawat mata-mata, pesawat tempur Joint Strike dan pesawat ulang-alik. Andrews adalah seorang kawan dekat CEO “Skunk Works” Ben Rich - penerus terpilih dari pendiri Skunk Works Kelly Johnson dan orang yang terkenal dalam pesawat tempur terkenal “Stealth” F-117 Nighthawk, pesawat itu merupakan prototipe kecil “setengah jadi” yang “MEMILIKI (sesuatu yang berwarna) BIRU”, serta pesawat pencegat amat rahasia Stealth F-19. Sebelum Rich meninggal karena kanker, Andrews mengajukan pertanyaan saya kepadanya.

Dr. Ben R. Rich memberi konfirmasi:

1. Ada dua tipe - satu yang kami bangun dan satu yang “mereka” bangun. Kami mempelajari dari masing-masing pesawat yang jatuh dan mempelajarinya secara langsung. Pemerintah tahu ini dan hingga tahun 1969 mengurusi informasi ini. Setelah tahun 1969 Nixon “membersihkannya”, administrasinya dilakukan oleh sebuah dewan direktur internasional di sektor swasta.

3. Hampir seluruh rancangan pesawat ruang angkasa “biomorphic” terinspirasi oleh pesawat Roswell - dari SR-71 Blackbird Kelly hingga pesawat masa kini, UCAV dan pesawat ruang angkasa.

7. Adalah pendapat Ben Rich bahwa publik seharusnya tidak diberitahu (tentang dan makhluk ET). Ia yakin publik tidak dapat memegang kebenaran - selamanya. Hanya di bulan-bulan terakhir ini ia merasa bahwa “dewan direktur korporat internasional” berurusan dengan “Hal” yang dapat menggambarkan suatu masalah besar bagi kebebasan personal warga di bawah Konstitusi AS daripada kehadiran para pengunjung dari luar Bumi itu sendiri.

Lindemann menambahkan bahwa “Bill McDonald menerima informasi di atas dari Andrews sejak tahun 1994 hingga hubungan telepon terakhir menjelang Natal tahun 1998.” Lindemann juga mencatat “Perlu diketahui bahwa Dr. Ben R. Rich menghadiri suatu konferensi para perancang dan insinyur kedirgantaraan publik pada tahun 1993 sebelum ia menderita sakit dimana ia menyatakan - di sela-sela hadirnya Jan Harzan, Direktur MUFON Seksi Orange County, serta banyak hadirin lainnya bahwa - “Kami” (antara lain: komunitas dirgantara / kompleks industri militer AS) tidak memiliki teknologi yang “membawa kita ke angkasa”.

Lihat surat lengkap dari John Andrews dan balasan tulisan tangan dari Dr. ben Rich. Dengarkan kesaksian yang lebih mengungkap dari para “whistleblower” (pengumbar isu) Disclosure Project (Program Pengungkapan). tidak dapat menolak info rahasia yang ditemukan oleh hacker Inggris Gary McKinnon dan banyak astronot jika ada harapan adanya dukungan penuh dari pemerintahan Gedung Putih Obama.

Diterjemahkan dari: “CEO of contractor Lockheed knew of extraterrestrial visitors”
Penulis: Jeff Peckman (Denver Examiner)
sumber: Examiner.com
edisi: 23 Desember 2008




Sumber Minyak Melimpah di Luar Angkasa

sumber : http://admin-kaka.blogspot.com/2009/01/sumber-minyak-melimpah-di-luar-angkasa.html


NASA - Perbandingan Bumi dengan Titan, salah satu bulannya Planet Saturnus

NASA - Perbandingan Bumi dengan Titan, salah satu bulannya Planet Saturnus


Di tengah cadangan minyak semakin menipis dan harga yang bergejolak, siapa menyangka kalau nun jauh di luar angkasa terdapat sumber minyak yang sangat melimpah dan lebih besar dari seluruh cadangan minyak di Bumi.


Baru-baru ini para peneliti menyiarkan bahwa Titan, salah satu bulannya Planet Saturnus yang beratmosfer tebal, menyimpan kandungan gas alam dan cairan hidrokarbon lain ratusan kali lipat lebih banyak dari yang terkandung di Bumi.


Sejauh ini telah ditemukan beberapa ratus danau dan laut di daerah kutub utara Titan. Untuk mendapatkan gambaran potensi sumber daya alam disana, ilmuwan mengukur kedalaman perairan disana dengan menggunakan pembanding danau-danau di Bumi, dimana kedalaman danau seringkali kurang dari 10 meter.


“Dengan demikian kita tahu kedalaman beberapa danau lebih dari 10 meter, karena mereka tampak sangat gelap di radar. Kalau dangkal, kita akan dapat melihat dasarnya,” kata Ralph Lorenz dari laboratorium fisika terapan di John Hopkins University.


Kesimpulan tersebut didapat berdasarkan pemantauan melalui wahana Cassini milik NASA, yang telah menuntaskan survei terhadap 20 persen permukaan Titan. Hasil pantauan tersebut juga memperlihatkan bahwa kandungan sumber daya alam di beberapa wilayah di bulan itu saja sudah lebih banyak dari semua kandungan sumber daya alam di bumi (minyak bumi, gas alam dan batu bara).


Meskipun demikian, para peneliti juga mengatakan bahwa Titan tidak dapat ditinggali manusia. Menurut mereka, permukaanya tidak mengandung air, melainkan hidrokarbon cair dalam bentuk methane dan ethane, sementara daratannya terbentuk dari tholins. Kondisi ini diduga serupa dengan Bumi pada waktu sebelum ada kehidupan.


“Kami memperkirakan kodisi serupa juga terdapat di daerah kutub selatan, namun kami belum tahu berapa jumlah kandungan cairan disana,” kata Ralph. Menurut dia, data ini penting karena umur hidup Titan tergantung dari berapa banyak jumlah methane yang terkandung dalam zat cair disana.


Lanjutnya, jika kandungan methane habis, maka suhu disana akan semakin dingin, yang saat ini diketahui minus 179 derajat Celcius. Asumsi sementara, kandungan methane tersebut semakin berkurang melalui letusan gunung api, yang diperkirakan telah menyebabkan fluktuasi suhu yang dramatis di masa lalu.


“Memahami kompleksitas yang terjadi di Titan dapat membantu kita memahami asal-usul kehidupan di alam semesta,” kata Ralph.(SPACE.COM/C3-08)




Lubang Hitam Or Black Hole

sumber : http://forum.detik.com/showthread.php?t=59270&page=2



http://www.ifa.hawaii.edu/~barnes/ast110_06/bhaq/Black_Hole_Milkyway.jpg



Dengan gaya gravitasinya yang sangat spektakuler lubang hitam adalah monster kosmis tersendiri. Jurang ketiadaan ini bahkan melenyapkan cahaya.


Lubang hitam (black hole) sering dihubungkan dengan hilangnya benda-benda kosmis bahkan wahana udara sekalipun, seperti pernah disinggung dalam rubrik ini berkaitan dengan hilangnya banyak pesawat di Segitiga Bermuda dan Samudera Atlantik Utara. Pro dan kontra pendapat mengenai hal ini memang tak pernah surut. Cerita seputar Segitiga Bermuda pun sepertinya tetap misterius, dan menjadi bahan tulisan yang tidak ada habis-habisnya.


Dalam bahasan fenomena kali ini, baiklah kita tinjau sedikit apa sebenarnya lubang hitam atau yang disebut para ilmuwan sebagai singularitas dari bintang redup yang mengalami keruntuhan gravitasi (gravitational collapse) sempurna ini.


Bila ditelusuri istilah lubang hitam, sebenarnya belum lah lama populer. Dua kata ini pertama kali diangkat oleh fisikawan AS bernama John Archibald Wheeler pada tahun 1968. Wheeler memberi nama demikian karena singularitas ini tak bisa dilihat. Mengapa demikian? Penyebabnya tidak lain karena cahaya tak bisa lepas dari kungkungan gravitasi singularitas yang maha dahsyat ini. Daerah di sekitar singularitas atau lazimnya disebut sebagai Horizon Peristiwa (radiusnya dihitung dengan rumus jari-jari Schwarzschild R = 2GM/C2 dimana G = 6,67 x 10-11 Nm2kg-2, M = kg massa lubang hitam, C = cepat rambat cahaya) menjadi gelap. Itulah sebabnya, wilayah ini disebut sebagai lubang hitam.


Dengan tidak bisa lepasnya cahaya, serta merta sekilas kita bisa membayangkan sendiri kira-kira seberapa besar gaya gravitasi dari lubang hitam. Untuk mulai menghitungnya, ingatlah bahwa cepat rambat cahaya di alam mencapai 300 juta meter per detik. Masya Allah. Lalu, apalah jadinya bila benar sebuah wahana buatan manusia tersedot ke dalam lubang hitam? Dalam hitungan sepersejuta detik saja, tentunya dapat dipastikan wahana tersebut sudah remuk menjadi bubur.


Lebih dua ratus tahun silam, atau tepatnya pada tahun 1783. pemikiran akan adanya monster kosmis bersifat melenyapkan benda lainnya ini sebenarnya pernah dilontarkan oleh seorang pendeta bernama John Mitchell. Mitchell yang kala itu mencermati teori gravitasi Isaac Newton (1643-1727) berpendapat, bila bumi punya suatu kecepatan lepas dari Bumi 11 km per detik (sebuah benda yang dilemparkan tegak lurus ke atas baru akan terlepas dari pengaruh gravitasi bumi setelah melewati kecepatan ini), tentu ada planet atau bintang lain yang punya gravitasi lebih besar. Mitchell malah memperkirakan di kosmis terdapat suatu bintang dengan massa 500 kali matahari yang mampu mencegah lepasnya cahaya dari permukaannya sendiri.



http://www.dailygalaxy.com/photos/uncategorized/2008/03/17/black_hole_big_2_3.jpg


Lalu, bagaimana sebenarnya lubang hitam tercipta? Menurut teori evolusi bintang (lahir, berkembang, dan matinya bintang), buyut dari lubang hitam adalah sebuah bintang biru. Bintang biru merupakan julukan bagi deret kelompok bintang yang massanya lebih besar dari 1,4 kali massa matahari. Disebutkan para ahli fisika kosmis, ketika pembakaran hidrogen di bintang biru mulai usai (kira-kira memakan waktu 10 juta tahun), ia akan berkontraksi dan memuai menjadi bintang maha raksasa biru. Selanjutnya, ia akan mendingin menjadi bintang maha raksasa merah. Dalam fase inilah, akibat tarikan gravitasinya sendiri, bintang maha raksasa merah mengalami keruntuhan gravitasi menghasilkan ledakan dahsyat atau biasa disebut sebagai Supernova.


Supernova ditandai dengan peningkatan kecerahan cahaya hingga miliaran kali cahaya bintang biasa kemudian melahirkan dua kelas bintang, yakni bintang netron dan lubang hitam. Bintang netron (disebut juga Pulsar atau bintang denyut) terjadi bila massa bintang runtuh lebih besar dari 1,4 kali, tapi lebih kecil dari tiga kali massa matahari. Sementara lubang hitam mempunyai massa bintang runtuh lebih dari tiga kali massa matahari. Materi pembentuk lubang hitam kemudian mengalami pengerutan yang tidak dapat mencegah apapun darinya. Bintang menjadi sangat mampat sampai menjadi suatu titik massa yang kerapatannya tidak terhingga, yang disebut singularitas tadi.


Di dalam kaidah fisika, besaran gaya gravitasi berbanding terbalik dengan kuadrat jarak atau dirumuskan F µ 1/r2. Dari formula inilah kita bisa memahami mengapa lubang hitam mempunyai gaya gravitasi yang maha dahsyat. Dengan nilai r yang makin kecil atau mendekati nol, gaya gravitasi akan menjadi tak hingga besarnya.


Para ilmuwan menghitung, seandainya benda bermassa seperti bumi kita ini akan menjadi lubang hitam, agar gravitasinya mampu mencegah cahaya keluar, maka benda itu harus dimampatkan menjadi bola berjari-jari 1 cm! (Allahu Akbar, hanya Tuhan lah yang bisa melakukannya).


Cakram gas


Dengan sifatnya yang tidak bisa dilihat, pertanyaan kemudian adalah bagaimana mendeteksi adanya suatu lubang hitam? Kesempatan yang paling baik untuk mendeteksinya, diakui para ahli, adalah bila ia merupakan bintang ganda (dua bintang yang berevolusi dan saling mengelilingi). Lubang hitam akan menyedot semua materi dan gas-gas hasil ledakan termonuklir bintang di sekitarnya. Dari gesekan internal, gas-gas yang tersedot itu akan menjadi sangat panas (hingga 2 juta derajat!) dan memancarkan sinar-X. Dari sinar-X inilah para ahli memulai langkah untuk menjejak lubang hitam.


Pada 12 Desember 1970, AS meluncurkan satelit astronomi kecil (Small Astronomical Satellite *SAS) pendeteksi sinar-X di kosmis bernama Uhuru dari lepas pantai Kenya. Dari hasil pengamatannya didapatkan bahwa sebuah bintang maha raksasa biru, yakni HDE226868 yang terletak dalam konstelasi Cygnus (8.000 tahun cahaya dari bumi) mempunyai pasangan bintang Cygnus X-1, yang tidak dapat dideteksi secara langsung.


Cygnus X-1 menampakkan orbitnya berupa gas-gas hasil ledakan termonuklir HDE226868 yang bergerak membentuk sebuah cakram. Cygnus X-1 diperhitungkan berukuran lebih kecil dari Bumi, tapi memiliki massa enam kali lebih besar dari massa matahari. Bintang redup ini telah diyakini para ilmuwan sebagai lubang hitam. Selain Cygnus X-1, Uhuru juga mendapatkan sumber sinar-X kosmis, yakni Cygnus X-3 dalam konstelasi Centaurus dan Lupus X-1 dalam konstelasi bintang Lupus. Dua yang disebut terakhir belum dipastikan sebagai lubang hitam, termasuk 339 sumber sinar-X lainnya yang dideteksi selama 2,5 tahun masa operasi Uhuru.


Eksplorasi sumber sinar-X di kosmis masih dilanjutkan oleh satelit HEAO (High Energy Astronomical Observatory) atau Einstein Observatory tahun 1978. Satelit ini menemukan bintang ganda yang lain dalam konstelasi Circinus, yakni Circinus X-1 serta V861 Scorpii dan GX339-4 dalam konstelasi bintang Scorpius.


Tahun 1999, dengan biaya 2,8 milyar dollar, AS masih meluncurkan teleskop Chandra, guna menyingkap misteri lubang hitam. The Chandra X-ray Observatory sepanjang 45 kaki milik NASA ini telah berhasil membuat ratusan gambar resolusi tinggi dan menangkap adanya lompatan-lompatan sinar-X dari pusat galaksi Bima Sakti berjarak 24.000 tahun cahaya dari Bumi. Mencengangkan, karena bila memang benar demikian (lompatan sinar-X itu) menunjukkan adanya sebuah lubang hitam di jantung Bima Sakti, maka teori Albert Einstein kembali benar. Ia menyatakan, bahwa di jantung setiap galaksi terdapat lubang hitam!


"Dugaan semacam itu sungguh sangat dekat dengan kenyataan," kata Frederick Baganoff yang memimpin penelitian, September 2001, kepada Reuters di Washington. Para ilmuwan pun mulai melebarkan pencarian terhadap putaran gas di sekitar tepi-tepi jurang ketiadaan ini, layaknya mencari pusaran air.


Pencarian lubang hitam dan kebenaran teori-teori yang mendukungnya memang masih terus dilakukan para ahli, seiring makin majunya teknologi dan ilmu pengetahuan. Pertanyaan kemudian, bila lubang hitam bertebaran di kosmis, apakah nanti pada saat kiamat, monster ini pula yang akan melenyapkan benda-benda jagat raya?

Keanehan Luar Angkasa

sumber : http://admin-kaka.blogspot.com/2009/01/keanehan-luar-angkasa.html




1. Tabrakan Antar Galaksi

Tabrakan Antar Galaksi

Ternyata galaksi pun dapat saling “memakan” satu sama lain. Yang lebih mengejutkan adalah galaksi Andromeda sedang bergerak mendekati galaksi Bima Sakti kita. Gambar di atas merupakan simulasitabrakan Andromeda dan galaksi kita , yang akan terjadi dalam waktu sekitar 3 milyar tahun.

Credit: F. Summers/C. Mihos/L. Hemquist


2. Quasar

Quasar

Quasar tampak berkilau di tepian alam semesta yang dapat kita lihat. Benda ini melepaskan energi yang setara dengan energi ratusan galaksi yang digabungkan. Bisa jadi quasar merupakan black hole yang sangat besar sekali di dalam jantung galaksi jauh. Gambar ini adalah quasar 3C 273, yang dipotret pada 1979.

Credit: NASA-MSFC


3. Materi Gelap (Dark Matter)

Materi Gelap (Dark Matter)

Para ilmuwan berpendapat bahwa materi gelap (dark matter) merupakan penyusun terbesar alam semesta, namun tidak dapat dilihat dan dideteksi secara langsung oleh teknologi saat ini. Kandidatnya bervariasi mulai dari neotrino berat hingga invisible black hole. Jika dark matterbenar-benar ada, kita masih harus membutuhkan pengetahuan yang lebih baik tentang gravitasi untuk menjelaskan fenomena ini.

Credit: Andrey Kravtsov


4. Gelombang Gravitasi (Gravity Waves)

Gelombang Gravitasi (Gravity Waves)

Gelombang gravitasi merupakan distorsi struktur ruang-waktu yang diprediksi oleh teori relativitas umum Albert Einstein. Gelombangnya menjalar dalam kecepatan cahaya, tetapi cukup lemah sehingga para ilmuwan berharap dapat mendeteksinya hanya melalui kejadian kosmik kolosal, seperti bersatunya dua black hole seperti pada gambar di atas.LIGO dan LISA merupakan dua detektor yang didesain untuk mengamati gelombang yang sukar dipahami ini.

Credit: Henze/NASA


5. Energi Vakum

Energi Vakum

Fisika Kuantum menjelaskan kepada kita bahwa kebalikan dari penampakan, ruang kosong adalah gelembung buatan dari partikel subatomik “virtual” yang secara konstan diciptakan dan dihancurkan. Partikel-partikel yang menempati tiap sentimeter kubik ruang angkasa dengan energi tertentu, berdasarkan teori relativitas umum, memproduksi gaya antigravitasi yang membuat ruang angkasa semakin mengembang. Sampai sekarang tidak ada yang benar-benar tahu penyebab ekspansi alam semesta.

Credit: NASA-JSC-ES&IA


6. Mini Black Hole

Mini Black Hole

Jika teori gravitasi “braneworld” yang baru dan radikal terbukti benar, maka ribuan mini black holes tersebar di tata surya kita, masing-masing berukuran sebesar inti atomik. Tidak seperti black hole pada umumnya, mini black hole ini merupakan sisa peninggalan Big Bang dan mempengaruhi ruang dan waktu dengan cara yang berbeda.

Credit: NASA-MSFC


7. Neutrino

Neutrino

Neutrino merupakan partikel elementer yang tak bermassa dan tak bermuatan
yang dapat menembus permukaan logam. Beberapa neutrino sedang menembus tubuhmu saat membaca tulisan ini. Partikel “phantom” ini diproduksi di dalam inti bintang dan ledakan supernova. Detektor diletakkan di bawah permukaan bumi, di bawah permukaan laut, atau ke dalam bongkahan besar es sebagai bagian dari
IceCube, sebuah proyek khusus untuk mendeteksi keberadaan neutrino.

Credit: Jeff Miller/NSF/U. of Wisconsin-Madison


8. Ekstrasolar Planet (Exoplanet)

Ekstrasolar Planet (Exoplanet)

Hingga awal 1990an, kita hanya mengenal planet di tatasurya kita sendiri. Namun, saat ini astronom telah mengidentifikasi lebih dari 200 ekstrasolar planet yang berada di luar tata surya kita. Pencarian bumi kedua tampaknya belum berhasil hingga kini. Para astronom umumnya percaya bahwa dibutuhkan teknologi yang lebih baik untuk menemukan beberapa dunia seperti di bumi.

Credit: ESO


9. Radiasi Kosmik Latarbelakang

Radiasi Kosmik Latarbelakang

Radiasi ini disebut juga Cosmic Microwave Background (CMB) yang merupakan sisa radiasi yang terjadi saat Big Bang melahirkan alam semesta. Pertama kali dideteksi pada dekade 1960 sebagai noise radio yang nampak tersebar di seluruh penjuru alam semesta. CBM dianggap sebagai bukti terpenting dari kebenaran teori Big Bang. Pengukuran yang akurat oleh proyek WMAP menunjukkan bahwa temperatur CMB adalah -455 derajat Fahrenheit (-270 Celsius).

Credit: NASA/WMAP Science Team


10. Antimateri

Antimateri

Seperti sisi jahat Superman, Bizzaro, partikel (materi normal) juga mempunyai versi yang berlawanan dengan dirinya sendiri yang disebut antimateri. Sebagai contoh, sebuah elektron memiliki muatan negatif, namun antimaterinya positron memiliki muatan positif. Materi dan antimateri akan saling membinasakan ketika mereka bertabrakan dan massa mereka akan dikonversi ke dalam energi melalui persamaan Einstein E=mc2. Beberapa desain pesawat luar angkasa menggabungkan mesin antimateri.

Credit: Penn State U. /NASA-MSFC

1 komentar

Adakah Alam Semesta Sebelum Big Bang?

sumber :http://erabaru.or.id/200902101160/adakah-alam-semesta-sebelum-big-bang.html





http://erabaru.or.id/images/stories/alamsemesta.jpg



“Apa yang diketahui adalah terbatas, yang tak diketahui adalah tidak terbatas, secara rasional kita berdiri di atas pulau kecil di tengah lautan tanpa batas yang tidak dapat dijabarkan.” —Thomas Henry Huxley (1825-1895)

Setiap gunung, sungai, dan lembah, semua binatang dan umat manusia—yang dulu, sekarang dan yang akan terjadi di masa depan, mereka semua pada suatu ketika pernah menyatu dalam sebuah titik api kecil. Itu adalah suatu titik yang memiliki kepadatan yang tak terbatas, sehingga daya imajinasi kita ini mungkin tidak akan pernah mampu memahaminya sama sekali. Jutaan milyaran ton materi yang digabungkan dengan energi yang besar dari alam semesta, mulai mengembang dan pecah dalam suatu ledakan mahabesar sekitar 20 milyar tahun yang lalu.


Dibandingkan dengan Big Bang (Ledakan Besar), maka suara ledakan dari bom atom yang dianggap paling dahsyat oleh manusia, hanyalah seperti suara nyamuk yang terjatuh di tanah pada sisi lain dari planet bumi. Pengembangan yang konstan dari semua yang ada itu telah merubah alam semesta menjadi sup plasma, secara berangsur-angsur bertransformasi ke suatu kondisi yang terus meningkat, yang hampir sama dengan apa yang kita ketahui saat ini.


Kemudian materi ini lambat laun mendingin, membentuk quarks pertama, elektron, dan proton. Ratusan, ribuan tahun telah lewat, dan elektron dan nukleus bergabung membentuk atom, dan setelah itu, quasar, bintang, sekelompok galaksi, dan semua itu adalah alam semesta yang sudah kita kenali.


Di luar semua informasi yang didapat bertahun-tahun lewat penyelidikan ilmiah, maka fase alam semesta pada momen-momen pertama setelah ledakan hebat itu masih saja menjadi bahan perdebatan sengit.


Berbagai macam teori yang hanya berkutat dalam lingkup ilmu pengetahuan, bagai sedang mengurai benang kusut, saat mereka mencoba menjelaskan masalah keadaan quantum khusus pada fase primitif --peristiwa paling awal dari Big Badaboom. Hingga kini masih tidak ada satu pun jejak fisik yang meyakinkan yang dapat menjelaskan 10 – 33 detik pertama dari alam semesta itu.


Bila kita ingin mencoba memahami awal mula peristiwa ledakan penting ini, bahkan lebih kompleks. Semakin banyak yang kita tahu penyebab pasti dari setiap peristiwa dan secara berangsur-angsur pula kita menyadari bahwa sesuatu itu pasti memiliki penyebabnya, alasan dibalik mengapa alam semesta diciptakan, akan menjadi suatu teka-teki yang lebih besar lagi – mengungkap kebenaran yang terakhir.


Big Bang, Big Crunch, dan Siklus Tak Terbatas



Satu teori yang dikemukakan untuk menjelaskan asal mula yang paling mula adalah Oscillating Universe (Pergerakan Alam Semesta). Banyak ilmuwan memperkirakan bahwa materi yang terkandung dalam alam semesta adalah cukup untuk mencapai suatu gaya gravitasi yang kuat, cukup besar untuk menghentikan pemuaian yang lebih lanjut, dan memulai suatu saat yang telah ditentukan dalam sejarah, membalikkan proses tersebut.


Menurut teori ini, kontraksi yang konstan pada keseluruhan alam semesta akan memuncak pada titik primordial - suatu fenomena yang dijuluki Big Crunch (Derakan Besar). Dari saat ini (secara teoritis tentunya) alam semesta secara harafiah akan tetap berjalan dengan cara yang sama, dengan adanya satu Big Bounce (Lambungan Besar), dikatakan sebagai, sebuah Big Bang yang baru.


Teori ini membawa kita pada pertanyaan: apakah rangkaian peristiwa luar biasa yang menguasai siklus atas segala sesuatu dalam alam semesta ini (kebangkitan-kemerosotan-kehancuran) akan terulang terus selamanya, dan apakah akan terus mengikuti pola yang sama, kembali pada masa lampau yang jauh.


Walaupun teori Oscilatting Universe pernah ditolak sebagai ganti dari model alam semesta yang lain, tapi penelitian yang dilakukan baru-baru ini lebih mempercayai kebenaran teori ini. Peneliti dari Penn State University, menggunakan perhitungan gravitasi kuantum, telah berspekulasi tentang sejarah kemungkinan adanya alam semesta sebelum Big Bang.


Menurut perhitungan ini, sebelum Big Bang, memang telah ada suatu keadaanruang waktu yang sama seperti yang kita miliki, hanya saja ia mengalami tahapan kontraksi. Diperkirakan bahwa gaya gravitasi menarik alam semesta ke dalam sampai mencapai titik dimana properti kuantum ruang waktu menyebabkan gravitasi menjadi semakin padat, dan menciptakan Big Bang yang diperkirakan saat ini akan kita alami.


Bisa jadi variasi dari kosmologikal konstan alfa, suatu fakta aneh yang telah diungkap ilmuwan beberapa tahun ini, berhubungan dengan materi pada alam semesta sebelumnya. Nilai abstrak (alfa) ini — yang dipakai sebagai parameter dalam hukum universal yang membolehkan atom tetap berada pada keadaan menyatu, yang sekaligus juga menggaris bawahi hukum kimia yang telah kita pahami—tidak serupa dengan apa yang kita harapkan dari alam semesta yang tua ini.


Menurut nilai alpha saat ini, alam semesta seharusnya 14 milyaran tahun lebih tua, dan materi seharusnya lebih memancar daripada kondisi yang terkesan saat ini.


Meski begitu, teori siklus ini dapat menjelaskan dengan baik keganjilan dari kestabilan alfa ini. Paul Steinhardt dari Universitas Princeton dan ahli fisika tafsir Neil Turok dari Universitas Cambridge, Inggris, percaya bahwa ia telah eksis sebelum alam semesta kita, tentunya masih ada cukup waktu bagi nilai terukur sehingga menjadi seperti sekarang ini.


Membangun ide mereka dari perspektif teori String dan teori M, Turok dan Steinhardt berpendapat bah-wa Big Bang sebetulnya bukanlah suatu kejadian yang unik, tetapi hanya merupakan akhir dari sebuah garis panjang tabrakan-tabrakan, yang muncul secara periodik ketika pemuaian alam semesta telah mencapai limitnya.


Asal mula yang hebat dan keterbatasan sains



Seandainya teori tentang alam semesta yang mengalami siklus berulang-ulang telah terbukti, atau bila kita telah menemukan bahwa dunia kita berasal dari Big Crunch yang terjadi sebelumnya, tetapi asal mula dari siklus ledakan-ledakan dan kontraksi-kontraksi yang tak terbatas itu akan tetap merupakan misteri.


Model dari siklus kosmik yang diutarakan dalam Big Bounce tidak memiliki titik akhir, tapi tidakkah ia memiliki sebuah awal? Apakah asal mula ini menjadi sebuah garis pembatas antara sains dan religi? Apakah faktor “keTuhanan” yang akhirnya akan menggarisbawahi asal mula ruang dan waktu, ataukah suatu hari nanti kita akan mampu menjelaskan segala sesuatu, dan penyebab Big Bang, dengan cara yang sepenuhnya berbau sains?


Iptek jaman sekarang telah menuntun kita pada perhitungan-perhitungan yang hasilnya mendekati unsur-unsur pokok dari Big Bang. Tetapi, di luar perhitungan-perhitungan yang makin rumit ini, apakah kita benar-benar telah menjadi lebih tahu dengan apa yang sesungguhnya terjadi.


Masih ada kemungkinan yang amat besar bahwa manusia tidak akan pernah boleh tahu akan kebenaran sejati. Dan meski banyak ilmuwan yang percaya bahwa alam semesta yang kita huni tidak mungkin mengandung apapun yang melebihi hal-hal yang dapat dijelaskan secara sains, tetapi pada suatu waktu nanti umat manusia adakalanya akan menyerah pada godaan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan pada diri mereka sendiri, atas apa yang dapat menyebabkan sesuatu terjadi. (den)




Gambar Fantastis Luar Angkasa dari Teleskop Hubble

sumber :http://funfunnyblog.blogspot.com/2008/09/top-ten-most-amazing-pictures-taken-by.html













Heureka, Inilah "Semut dari Mars" !!!





Semut spesies baru yang ditemukan di hutan Amazon ini hidup di bawah tanah dan buta selama hidupnya. Para ilmuwan yang menemukannya yakin semut tersebut masih keturunan langsung semut purba yang pertama kali menghuni Bumi.

Seorang mahasiswa program studi biologi evolusi Universitas Texas, AS, Christian Rabeling, menemukannya pertama kali di hutan hujan Empresa Brasileira de Pasquisa Agropecuaria di Manaus, Brasil, tahun 2003. Ia adalah satu-satunya koloni semut yang hidup di bekas pohon yang membusuk di dalam tanah.

Maka, pantas kalau penemunya memberi nama Martialis heureka yang artinya semut dari Mars saking unik dan anehnya. Semut tersebut tak lagi menggunakan indera penglihatan dan tak membutuhkan pigmen atau pewarna tubuh karena telah beradaptasi dengan lingkungan yang gelap gulita. Sebagai gantinya, ia memiliki tubuh memanjang dan capit yang panjang yang diduga untuk meraba dan menangkap mangsa.

Martialis heureka tidak hanya tercatat sebagai spesies baru, tapi juga membentuk kelompok genus tersendiri, bahkan subfamili baru. Subfamili terakhir ditemukan tahun 1967. Saat ini semut terbagi dalam 21 subfamili.

Sampel DNA yang diambil dari kakinya menunjukkan bahwa semut dari Mars menempati pangkal pohon evolusi semut. Dari sifat genetikanya, semut diperkirakan mulai muncul sejak 120 juta tahun lalu dari nenek moyang yang sama dengan tawon. Para ilmuwan meyakini semut segera tersebar ke dalam habitat yang berbeda-beda, di tanah, dedaunan, dan sebagainya.

"Penemuan ini mendukung pendapat bahwa semut predator yang buta dan hidup di dalam tanah muncul di awal evolusi," ujar Rabeling. Meski demikian, hal tersebut bukan berarti nenek moyang semut buta dan hidup di tanah. Namun, saat mulai berevolusi, semut telah beradaptasi dengan lingkungan tanah hutan tropis.

Rabeling mengatakan, Martialis heureka memberi petunjuk bahwa rahasia evolusi semut mungkin masih tersembunyi di balik hutan hujan tropis. Penemuan yang dilaporkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini juga memberikan informasi baru untuk mempelajari lebih mendalam keragaman hayati serangga, khususnya semut.



Meteor Raksasa Terangi Langit Kanada











Gambar meteor yang terekam kamera video terlihat melintas di atas kota Edmonton

Minggu, 23 November 2008 | 14:02 WIB

SASKATOON, MINGGU — Para ilmuwan berharap dapat menemukan serpihan dari sebuah meteor yang bercahaya terang benderang melintas di langit sebelum jatuh ke Bumi atau di wilayah Kanada. Ilmuwan dari planetarium Universitas Calgary Alan Hilderbrand menyebut meteor itu sebagai salah satu meteor terbesar yang pernah terlihat di Kanada dalam satu dasawarsa terakhir.

Tayangan gambar video menunjukkan gulungan bola api yang melintas cepat Kamis (20/11) malam waktu setempat di atas wilayah Saskatoon. Gulungan bola api ini semakin membesar dan bercahaya lebih terang sebelum hilang saat mendekati Bumi.

Hildebrand mengaku, Jumat (21/11) telah menerima sekitar 300 laporan e-mail dari beberapa saksi mata. Beberapa saksi mata di Provinsi Alberta mengaku melihat paduan berbagai warna dari meteor yang jatuh ke Bumi ini.

"Tadinya saya pikir kembang api," kata Marcel Gobeil, seorang petani yang menjadi salah satu saksi mata. "Sebelumnya saya tak pernah melihat benda seperti itu dengan kilauan warna hijau dan biru yang kemudian berubah menjadi merah menyala. Gulungan bola api itu sangat besar."

Sementara saksi mata lainnya, Shawn Mitchler, sedang mengisi tangki mobilnya dengan bensin di Radisson saat ia melihat kilatan cahaya meteor selama 10 detik. "Jantung saya berdebar kencang karena saya tak mengenali benda tersebut. Benda itu menyerupai kembang api atau sebuah rudal yang sedang jatuh ke Bumi," akunya.

Polisi tak meragukan laporan tersebut. Ini karena sebuah kamera video kendaraan patroli polisi berhasil merekam gambar meteor yang jatuh ke Bumi itu.











Waduk Air Tersembunyi di Satelit Saturnus





sumber :http://karodalnet.blogspot.com/2008/11/waduk-air-tersembunyi-di-satelit.html


Satelit Saturnus, Enceladus tampaknya memang menyembunyikan waduk air jauh di bawah permukaannya. Data yang diambil dengan Ultraviolet Imaging Spectrograph (UVIS) milik Cassini menunjukan keberadaan alur partikel es dan uap air yang dimuntahkan keluar dari bulan tersebut. Data inilah yang kemudian diteliti oleh tim gabungan Jet Propulsion Lab di California, University of Colorado dan University of Central Florida di Orlando.




Foto: Penampakan Semburan Air dari Enceladus (Satelit Saturnus)




Hasilnya, tim yang dipimpin Professor Joshua Colwell menemukan sumber jalur muntahan tersebut berasal dari sebuah sumber air yang ada jauh di bawah permukaan. Tampaknya air disana mengalir keluar dari permukaan melalui sebuah lubang yang menjadi penghubung dengen kecepatan supersonik.

Saat ini hanya ada 3 tempat di Tata Surya yang diperkirakan memiliki air dalam betuk cair di dekat permukaan. Bumi, Satelit Jupiter - Europa dan sekarang Enceladus, Satelit Saturnus. Ketiga tempat ini memang menarik perhatian untuk diteliti lebih lanjut karena air merupakan materi dasar bagi kehidupan, dan memberi implikasi penting bagi penelitian di Tata Surya. Jika ternyata pemanasan berkala yang diperkirakan menyebabkan terjadinya geyser tersebut ditemukan dan merupakan fenomena umum dalam sistem keplanetan maka ini akan jadi sangat menarik. Karena bisa jadi kehidupan adalah hal yang umum dalam sistem keplanetan.

Hasil analisa tim ini juga membuktikan kebenaran teori tentang sumber jalur geyser memang berasal dari sumber air di bawah permukaan Enceladus. Sebuah konsep yang berlaku umum. Hal yang sama juga ditemukan di Bumi. Air dalam bentuk cair di Bumi berada jauh di bawah permukaan es Danau Vostok di Antartika.

Untuk kasus Enceladus, diyakini butiran es berkondensasi dari uap air yang lepas dari sumber air dan mengalir melalui retakan di kerak es sebelum lepas dari permukaan menuju angkasa.

Hipotesa lain yang diberikan oleh teori yang ada tampaknya tidak bisa digunakan dalam kasus Enceladus. Teori memprediksikan jalur gas dan debu yang teramati tersebut disebabkan oleh penguapan butiran es yang keluar ke angkasa saat gaya pasang surut Saturnus menyebabkan lubang yang ada di kutub selatan terbuka. Namun hasil yang ditemukan oleh tim peneliti menunjukan uap air yang keluar dari lubang tersebut pada tahun 2007 lebih banyak dari yang diprediksikan secara teori untuk tahun yang sama.

Hasil pengamatan memang menunjukan ketidakcocokan dengan waktu terbuka dan tertutupnya lubang atau jalur keluar tersebut sebagai akibat pasang surut. Selain itu hasil analisa menunjukan perilaku geyser sesuai dengan model matematika yang menjadikan lubang atau jalur keluar tersebut sebagai pipa penghubung uap air dari waduk air ke permukaan. Pengamatan pada cahaya terang dari bintang yang terhalang oleh geyser juga menunjukan kalau uap air tersebut membentuk semburan tipis. Semburan uap air tipis dengan kecepatan tinggi seperti itu hanya bisa terjadi pada temperatur yang mendekati titik leles es.

Saat ini belum ada kesimpulan akhir namun di masa depan Enceladus akan jadi target utama penelitian Cassni selama perpanjangan misinya pada bulan September 2010 dengan nama Misi Equinox. (langitselatan.com)



powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme